Buka jam 08.00 s/d jam 16.00 , selebihnya langsung Hubungi 0813.7326.8991
Beranda » Artikel Terbaru » pengaruh kekurangan air pada kebun kelapa sawit

pengaruh kekurangan air pada kebun kelapa sawit

Diposting pada 12 April 2018 oleh Eros Nasa

tanah yang gersang mempengaruhi produksi kelapa sawit

Hubungan proses siklus pertumbuhan tanaman dengan ketersedian air

Air sebagai penyusun utama protoplasma tanaman dan mempunyai peran yang sangat penting dalam proses fisiologi tanaman. Air berfungsi sebagai pelarut hara, media translokasi hara, penstabil suhu tanaman dan sebagai penyusun utama  biomassa tanaman. Tanah sebagai media tumbuh, mempunyai peran yang sangat penting dalam menunjang  produktivitas tanaman berkaitan dengan kemampuan tanah dalam  penyediaan hara, air dan mendukung sistem perkembangan perakaran. Dalam perkembangan dan proses fisiologis tanaman Kelapa sawit  pembentukan bunga dimulai sejak 38-42 bulan sebelum buah masak dan pelepah dimulai 29 bulan sebelum menjadi pucuk. Selama waktu tersebut berbagai faktor dapat berpengaruh terhadap perkembangannya seperti ketersediaan hara, air yang cukup serta jumlah daun (pelepah).

 

Di perkebunan Kelapa sawit, sumber air sebagian besar berasal dari hujan yang jatuh pada areal pertanaman. Untuk dapat berproduksi optimal Kelapa sawit memerlukan sekitar 6 mm curah hujan atau setara 60,000 ltr/ha atau 405 lt/pokok pada kerapatan 145 pokok/ha, dan pada kenyataannya kondisi ini sangat sulit terpenuhi. Jika  curah hujan < 100 mm/bulan, untuk tujuan mengurangi water stress, aspek teknis dan praktis dan pertimbangan biaya diperlukan irigasi setara 200 lt/pokok. Untuk tujuan ini Estate yang berdekatan dengan Mill dapat memanfaatkan effluent dengan BOD < 500 ppm yang diaplikasikan pada bangunan longbed atau flatbed. Upaya lain adalah menjaga ground cover tumbuh optimal (selektiv weeding), aplikasi EFB, implementasi U-shape. Berikut adalah rata-rata air tersedia pada beberapa jenis tanah yang dapat digunakan dalam sebagai pertimbangan dalam meyusun langkah-langkah konservasi tanah, air dan menghitung water defisit.

 

Tipe Tanah Air Tersedia (mm/m)
Pasir = sand 55
Lempung Berpasir = sandy loam 120
Lempung Liat = clay loam 150
Liat = clay 135

Sumber: Brouwer, 1986 dalam Soemarno

Tabel  3. Jenis tanah dan ketersediaan air tanah

 

Curah hujan yang tinggi dan terjadi pagi hingga siang hari akan berhubungan dengan rendahnya aktivitas Elaeidobius kamerunicus dan serangga lain, tingkat  radiasi, kemungkinan yang sama akan mengakibatkan proses fotosintesis tidak berlangsung secara optimal meskipun curah hujan mencukupi. Kajian yang dilakukan di Benin menunjukkan  minyak per mesocarp cenderung tertekan/ rendah didalam janjang yang dipanen setelah 2 bulan tanaman mengalami deficit air, sebagaimana di kutip oleh Corley & P.B.Tinker (2003) p.126 (5) dari Och& Daniel (1976).

 

Caliman (1998), menyatakan water deficit 100 mm dapat menurunkan produksi 8 – 10% pada tahun pertama dan 3 – 4 % pada tahun ke dua. Menurut Ochs dan Daniel (1976) dalam Caliman (1998) defisit air memberi dampak negatif terhadap sex differensial kelapa sawit, juga meningkatkan jumlah aborsi bunga betina, dan menghambat pertumbuhan tanaman, yang akhirnya akan menurunkan hasil selama beberapa bulan setelah kekeringan.  Dampak negatif lainnya adalah penurunan OER. Infrastruktur “water harvesting” dan “soil  moisture conservation” sangat diperlukan pada area dengan kedalaman tanah < 1.5 m.

Dampak kemarau Panjang  (water deficit > 500 mm/tahun) pada tanaman kelapa sawit diperkebunan Bekri lampung Tengah tahun 1997, dimana penurunan produksi secara riil mencapai diatas 70 %, dimana 20 % – 30 % terjadi pada tahun yang bersangkutan dan 30 % – 50 % pada tahun berikutnya. Kekeringan juga berdampak pada penurunan ekstraksi secara drastis dari 22 % menjadi 18 % (Hakim, 2007).

 

Water Deficit
Kategori mm Yield Reduction (%)
Normal 0 – 100 0 – 10
Sangat Ringan 100 – 200 10 – 20
Ringan 200 – 300 20 – 30
Berat 300– 400 30 – 40
Berat Sekali >400 >60

Sumber : H. Memet, 2007

 

Kekeringan dapat menghambat pembukaan pelepah daun muda, merusak hijau daun, pelepah daun terkulai dan pupus patah (frond snaping). Pada fase reproduktif cekaman kekeringan menyebabkan perubahan nisbah kelamin bunga, bunga dan buah muda mengalami keguguran dan tandan buah gagal menjadi masak. Akhirnya mengakibatkan gagal panen dan menurunkan produksi tandan buah segar hingga 40 % dan CPO hingga 21-65 % (Calliman & Southworth, 1988: Siregar, 1998).

 

Kekeringan  di Kalimantan tahun 1997-1998  menyebabkan peningkatan aborsi buah sebesar 19.73% dan aborsi bunga betina 11.43%. Kondisi berlangsung 3 – 6 bulan setelah kekeringan, selain itu kekeringan ini berdampak pada proses sex diferensiasi sehingga 16 – 24 bulan kemudian terjadi penurunan jumlah bunga betina dan peningkatan bunga jantan , sex rasio berkisar 37.7 – 41.8%.  Defisit air > 500 mm/tahun dapat menurunkan produksi TBS sebesar 37%,  (R & D  Report 1997). Bangunan konservasi berupa bund terrace memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap peningkatan produksi sebesar 21.5% dan bangunan rorak atau siltpit sebesar 13.4 % dibandingkan tanpa bangunan konservasi.

Kesimpulan

 

  1. Curah hujan dan distribusinya sangat berpengaruh pada pola produksi , water deficit berdampak terhadap penurunan produksi yang nyata dibandingkan adanya peningkatan produksi oleh peningkatan umur tanaman.
  2. Data curah hujan yang up to date dan  berkelanjutan sangatlahpenting sebagai dasar dalam menyusun perkiraan produksi.
  3. Memahami pola curah hujan suatu wilayah sangatlah penting dan berguna dalam menghadapi musim kemarau dan berguna dalam menyusun budget produksi.
  4. Dampak buruk distribusi curah hujan yang tidak merata dapat dieliminir dengan konservasi tanah dan air yang lebih terprogram dan terintegrasi dengan memanfaatkan semua sumber daya

By KOnsultan TS perkebunan PT NASA Bapak Ir.Eko Zulkifli,MSc

Manfaat Pupuk organik Super nasa adalah pupuk pembenah tanah sekaligus penutrisi lengkap ,kenapa tanah membutuhkan super nasa ? sebab kandungan unsur hara yang ada didalam pupuk super nasa meliputi unsur yang sangat penting yang dibutuhkan oleh tanaman yaitu unsur hara makro dan mikro juga asam humat vulvat disamping memberi makanan sekaligus dia juga sebagai pembenah tanah dan sebagai Buffer atau penyangga air.

kandungan atau komposisi lengkap pupuk Super Nasa adalah sebagai berikut :

N = 2,67%, P205 = 1,36%, K = 1,55%, Ca = 1,46%, S = 1,43 %, Mg = 0,4%, Cl = 1,27%, Mn = 0,01%, Fe = 0,18%, Cu < 1,19 ppm, Zn = 0,002%, Na = 0,11%, Si = 0,3%, Al = 0,11 %, NaCl = 2,09%, SO4 = 4,31%, C/N ratio = 5,86%, PH = 8, Lemak = 0,07%, Protein = 16,69, Karbohidrat = 0,01%, mengandung asam Humat dan Vulvat

Seiring berjalannya waktu dan gaya hidup para petani yang semuanya serba instan ternyata memiliki dampak terhadap pengerasan lahan atau tanah. Dan ini berlangsung sudah cukup lama yakni berkisar sejak tahun 1980an dimana pada saat itu petani dikenalkan dengan istilah revolusi hijau dengan diperkenalkannya pupuk kimia secara tidak sadar pelan tapi pasti pupuk kandang  istilah keren sekarang adalah pupuk Kompos yang dulunya menjadi pupuk andalan terbaik para petani mulai ditinggalkan sebab ketidakpraktisannya  hingga petani mendapat gelar swasembada pangan peningkatan produksi tercapai. namun dibalik itu ada sisa PR besar yang saat ini sudah dirasakan.

Bagikan informasi tentang pengaruh kekurangan air pada kebun kelapa sawit kepada teman atau kerabat Anda.

pengaruh kekurangan air pada kebun kelapa sawit | grosir pupuk organik

Belum ada komentar untuk pengaruh kekurangan air pada kebun kelapa sawit

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Temukan Kami

Visitors




Sidebar Kiri
Kontak
Cart
Sidebar Kanan